KOMSOSBARNABAS.COM – Suasana Lobi Gedung Karya Pastoral (GKP) Ande Prevot, Gereja Santo Barnabas, belakangan ini terasa lebih semarak. Dentingan khas alat musik petik ukulele sayup-sayup terdengar mengiringi tawa renyah para adiyuswo yang tergabung dalam kelompok Adiyuswo Santo Barnabas. Mereka tidak sekadar berkumpul, melainkan sedang mengasah bakat dalam latihan rutin yang penuh kehangatan.

Kegiatan ini digagas sebagai wadah hiburan sekaligus penyaluran hobi bagi para anggota Adiyuswo. Bermain ukulele dipercaya menjadi terapi rekreatif yang efektif untuk menjaga ketajaman kognitif serta kebahagiaan di usia senja.

Kelompok yang kian solid ini tumbuh di bawah kepemimpinan yang berdedikasi. Bapak AY Kriskamto dipercaya sebagai ketua kelompok, didampingi oleh Ibu Pho-Pho Yenny Chrisny yang bertindak sebagai koordinator. Untuk memastikan kualitas permainan musik mereka, kelompok ini dilatih secara intensif oleh Bapak Yulius Budi Susila.
“Kegiatan ini bukan hanya soal musik, tapi soal kebersamaan. Ukulele menjadi jembatan bagi kami untuk tetap produktif dan ceria,” ujar salah satu pengurus di sela-sela latihan.
Meski ukulele menjadi daya tarik utama, aktivitas Adiyuswo Santo Barnabas ternyata sangat beragam. Mereka memiliki agenda rutin untuk menjaga kebugaran fisik dan mental, di antaranya:
- Senam Bersama: Menjaga mobilitas fisik para anggota.
- Pemeriksaan Kesehatan: Pemantauan rutin kondisi fisik lansia.
- Seni Angklung: Selain ukulele, mereka juga melestarikan budaya lokal melalui angklung.
- Kolaborasi: Aktif menjalin silaturahmi dengan kelompok adiyuswo dari paroki lain di wilayah Dekenat Tangerang II.
Eksistensi kelompok ini tidak hanya terbatas di lingkungan paroki sendiri. Baru-baru ini, mereka unjuk gigi dalam acara Perayaan Nata 2025l dan Tahun Baru 2026 bersama Dekenat Tangerang II yang diselenggarakan di Gereja Santa Odilia, Paroki Citra Raya, Tangerang.

Dalam kesempatan tersebut, tim ukulele Santo Barnabas membawakan lagu legendaris ciptaan Koes Plus, “Ojo Podo Nelongso“. Pemilihan lagu yang bernuansa optimis tersebut terbukti ampuh membakar semangat peserta. Penampilan mereka disambut dengan tepuk tangan meriah, bahkan para undangan yang hadir tidak ragu untuk berdiri dan berjoget bersama mengikuti irama ukulele yang rancak.
Kegiatan seperti ini membuktikan bahwa usia hanyalah angka. Melalui petikan ukulele, para adiyuswo Santo Barnabas menunjukkan bahwa semangat untuk belajar, berkarya, dan berbagi kebahagiaan tidak akan pernah pudar dimakan waktu.
Oleh: Jurnalis Paroki Barnabas

Leave a Reply