Menguatkan Iman di Tengah Pergumulan: Pesan Pertobatan dan Pengharapan dari Romo Koko

Menguatkan Iman di Tengah Pergumulan: Pesan Pertobatan dan Pengharapan dari Romo Koko

Seminar rohani bertema “Pertobatan & Pengharapan” bersama Romo Koko berlangsung penuh semangat diikuti umat dari berbagai wilayah. Sejak pukul 8 pagi peserta seminar sudah mulai berdatangan. Acara dimulai pukul 9 dengan sambutan hangat serta berkat dari Romo Petrus, kemudian dilanjutkan dengan pujian bersama komunitas PDKK.

Romo Koko membuka sesi dengan pesan menyentuh, “Hidup ini penuh penderitaan dan ketidakpastian, tetapi Tuhan tidak pernah meninggalkan kita.” Beliau menegaskan bahwa setiap orang pasti menghadapi kesulitan, namun pengharapan di dalam Kristus adalah kunci untuk tetap bertahan.

Melalui kisah Lazarus yang diperintahkan Tuhan untuk menggulingkan batu penutup kubur sebagai pengantar, Romo Koko mengingatkan bahwa batu kubur zaman sekarang adalah ketakutan, kecemasan, hingga trauma lama. Kita harus berani membuang segala kepahitan dalam hidup untuk melangkah ke masa depan yang lebih baik.

Pesan untuk berpengharapan juga ditegaskan lewat kutipan Paus Benediktus XVI: “Iman kebangkitan itu buahnya adalah pengharapan,” seraya menekankan bahwa harapan sejati lahir dari iman, bukan dari optimisme kosong. Romo menambahkan, berpengharapan bukan sekadar berpikir positif, tetapi karena iman kita kepada janji keselamatan yang pasti.

Kisah janda dari Nain juga diangkat untuk menyoroti kasih Yesus yang tak terbatas. Gereja Katolik merayakan Hati Yesus yang Mahakudus sebagai peringatan dalam menyadari besarnya cinta Tuhan. Ia mengingatkan umat, “Jangan putus asa, karena Yesus sungguh mencintai kita.”

Romo melanjutkan dengan menyoroti makna “Hesed,” kasih setia Allah yang penuh kemurahan, yang mungkin tidak layak kita terima. Tuhan Yesus menyayangi kita dalam segala kondisi, bahkan saat hidup kita tidak baik. Meskipun kita jatuh dan terluka, Tuhan tetap menopang. Kasih setia Tuhan sangat dalam, kita tidak bisa melihat ujungnya.

Dalam sesi pesan penutup, Romo mengajak peserta untuk berserah. “Serahkanlah hidupmu pada Tuhan.” Banyak orang takut tua, takut tidak produktif dan fungsional lagi. Realitasnya, semakin tua kita bisa menjadi semakin bijaksana. Secara lahiriah bisa saja semakin merosot, tetapi secara batiniah kita selalu dibaharui. “Ikut Yesus itu membahagiakan,” tuturnya.

Pesan penting lainnya adalah agar umat tetap menjaga kelembutan hati, “Pertahankan elegansi, jangan reaktif dan cepat marah, kuasai diri.”

Sesi diskusi pun berjalan interaktif, membahas pertobatan hingga dosa berat. Romo menyadarkan kita melalui kisah eksorsisme bahwa satu kali pengakuan dosa mengalahkan seribu doa eksorsisme. Maksudnya ialah bahwa pengakuan dosa sangat besar pengaruhnya karena pengampunan dilakukan oleh Yesus sendiri.

Melalui contoh kasus dosa bunuh diri, Romo berpesan bahwa sebagai manusia, jangan cepat menghakimi. Sebaiknya kita banyak berdoa, baik bagi diri sendiri maupun orang banyak. Doa orang yang hidup sangat berarti bagi jiwa-jiwa yang menderita.

Menutup acara, Romo menjelaskan dosa yang tak terampuni, yaitu ketika seseorang secara sadar menentang Roh Kudus. Mengeraskan hati dan tidak mendengar hingga tidak percaya lagi akan Roh Kudus. Adapun pengingat untuk sebaiknya tidak mengikuti perintah yang tidak sesuai dengan ajaran Katolik, sejauh hal tersebut tidak perlu dilakukan.

Seminar berakhir dengan pembagian voucher dari Prodia untuk lansia, sesi foto kelompok, dan penyerahan souvenir untuk Romo.

“Kasih Allah itu setia dan tidak tergoyahkan,” tutup Romo Koko dengan senyum penuh damai. Sungguh seminar rohani yang meneguhkan sekaligus menyenangkan. Seminar berlangsung dengan penuh kegembiraan karena peserta seminar sangat antusias dan bersemangat. Ditambah lagi, di setiap interaksi, Romo memberikan rosario sebagai hadiah. Dengan begitu, seminar rohani ini benar-benar membuat hati peserta seminar berkesan.

By Gisela Anabell

Leave a Reply

Your email address will not be published.